Keluhan-keluhan Pengguna UMPC
UMPC merupakan produk jenis baru yang digandrungi oleh banyak upper management atau eksekutif papan atas. Mereka menggunakannya untuk hal-hal seperti mengecek dan menulis email ketika di perjalanan, melakukan presentasi langsung dari UMPC mereka, ataupun hal-hal lain seperti web browsing.
Nah, kebetulan saya banyak berbincang dengan konsumen UMPC dan mendengar tentang keluhan-keluhannya. Sebisa mungkin saya berikan solusi untuk semua keluhan-keluhan ini. Tapi lama-lama, bisa dilihat keluhan-keluhan yang muncul berulang-ulang. Berikut akan saya paparkan keluhan-keluhan ini beserta solusinya.
Masuk Windows Kelamaan
Karena bentuk UMPC yang cukup kecil, banyak memiliki ekspektasi bahwa UMPC mampu masuk ke Windows dalam waktu seketika, seperti halnya PDA atau PocketPC. Tidaklah demikian, karena UMPC menggunakan basis Windows XP atau Vista (ada perkecualian, tapi kebanyakan yang ada di pasaran adalah jenis XP atau Vista). Untuk “boot up time”, biasanya diperlukan waktu sekitar 60 detik.
Solusi dari masalah ini adalah penggunaan fitur “Hybernate” yang ada di Windows XP/Vista. Dengan fitur ini, pengguna bisa mempercepat “boot up time” sebanyak 3-4 kali lipat. Caranya? Silakan lihat disini.
Solusi tambahan adalah menggunakan perintah “msconfig” untuk mematikan program-program yang di-”load” pada saat Windows boot up pertama kali. Caranya? Silakan lihat disini.
Baterenya Cepet Abis
UMPC biasanya menggunakan prosesor yang cukup haus tenaga batere (meskipun menggunakan teknologi ULV atau Ultra Low Voltage) dan hard disk yang berputar (baca: haus batere juga). Nah, untuk tetap membuat UMPC yang ringan, tentunya sang pembuat tidak bisa menggunakan batere yang terlalu besar. Alhasil, batere standar cukup cepat habis (setara dengan laptop biasa yang biasanya bisa dipake untuk 2-3 jam secara terus-menerus). Hal ini, cukup counter-productive, mengingat UMPC digunakan oleh pengguna mobilitas tinggi, dimana mencari colokan listrik di perjalanan bukan sesuatu yang mudah.
Solusinya, pengguna harus memaksimalkan kapasitas batere se-efisien mungkin. Biasanya, di UMPC terdapat setting untuk mematikan layarnya ketika tidak digunakan. Dengan sekali pencet, biasanya layar UMPC bisa dimatikan atau dihidupkan.
Solusi kedua, gunakan setting “Max Battery”. Caranya bagaimana? Silakan lihat disini.
Solusi ketiga, pergunakan batere “extended”. Biasanya pembuat produk menawarkan opsi untuk membeli batere tipe tahan lama.
Sedikit note, untuk penggunaan UMPC yang seharian, pengguna bisa mempertimbangkan produk Vega dari Raon Digital.
Mau Ngetik Susah!
UMPC sebenernya didesain untuk memasukkan teks menggunakan “hand writing recognition”. Software buatan Windows ini cukup baik untuk pengenalannya, tapi … biasanya untuk bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain yang cukup mendunia, seperti bahasa Perancis, China, Jerman, Jepang, dll. Untuk bahasa Indonesia sendiri, masih sangat tidak memadai.
Solusinya, update kosa-kata bahasa Indonesia ke dalam kamus Windows. Caranya? Silakan lihat disini.
Ada juga yang cukup handal menggunakan virtual keyboard di UMPC, tapi mereka mengeluh, “terlalu lambat, ngga bisa kayak qwerty keybaord yang beneran”.
Solusinya? Bereksperimen dengan beberapa software penulisan yang bisa di-instal di Windows. Beberapa favorit adalah:
(1) EverNote ritePen
RitePen menjanjikan kemampuan menulis dimana saja didalam layar UMPC. RitePen memudahkan penulis dengan memperbesar lahan penulis sehingga seluruh layar bisa digunakan untuk menulis.
(2) InScribe
InScribe menjanjikan cara mengetik dengan cara menggeserkan stylus dari huruf ke huruf. Dengan fungsi “ghost”-nya, memudahkan pengguna untuk bolak-balik antara keyboard sebesar layar UMPC dengan window pengolah katanya. InScribe berasa sangat snappy dalam pengoperasiannya.
(3) SpeedScript
SpeedScript menjanjikan cara mengetik tercepat, bahkan melebihi pengetikan 10-jari menggunakan keyboard beneran. Menurut klaimnya, SpeedScript sedikit dibawah steno dalam kecepatan. Dari eksperimen awal, memang SpeedScript mempunyai potensial ini, tetapi … pengguna akan memerlukan periode cukup lama untuk menguasainya.
Prinsip dasar dari SpeedScript ini adalah asumsi penggunaan vowel (a,e,i,o,u) yg sering (50%). Dengan satu gerakan garis kecil berarah, pengguna bisa menulis dua huruf langsung (konsonan dan vowel). Penempatan/layout hurufnya dalam bentuk cluster memudahkan pengguna supaya tidak menggerakkan tangan, namun hanya jari penulis.
Kalau memang janjinya betul bisa tercapai yaitu mengalahkan kecepatan pengetikan 10-jari, SpeedScript memang patut ditekuni lebih dalam.
Posted: March 31st, 2008 under Review, UMPC.
Tags: evernote, inscribe, keluhan, ritepen, speedscript, UMPC
Comment from ajie
Time October 3, 2008 at 3:43 am
Maav .. tp apanya yg lyat disini ??